KOMUNITAS ALTERNATIF ALA YESUS SEBAGAI JAWABAN TERHADAP BENTUK-BENTUK KETIDAKADILAN SOSIAL


KOMUNITAS ALTERNATIF ALA YESUS SEBAGAI JAWABAN TERHADAP BENTUK-BENTUK KETIDAKADILAN SOSIAL 
oleh Himawan Teguh

PENDAHULUAN
             Sejarah manusia adalah sejarah ketidakadilan sosial. Barangkali kalimat ini tidak berlebihan. Kitab Pengkotbah mencatat: “Lagi aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah matahari, dan lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang menghibur mereka, karena di fihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan” (Pkh. 4:1). Ketidakadilan sosial selalu hadir, merongrong, dan menghantui kehidupan umat manusia dalam berbagai konteks sosial-budaya, melampaui rentang waktu dan jaman. Sejak manusia mencoba membangun sebuah peradaban, beralih dari era kehidupan yang nomaden ke kehidupan yang bertempat tinggal tetap, maka ketidakadilan sosial mulai merebak. Sebuah masyarakat selalu memiliki sistem tersendiri dalam menjalankan kehidupan sosio-ekonomi-kulturalnya. Jika sistem kehidupan tersebut tidak diperhatikan dengan seksama maka akan dapat dengan serta-merta menghadirkan bentuk-bentuk ketidakadilan sosial. Ketidakadilan sosial mulai menyeruak ketika terdapat fakta-fakta konkrit adanya sebagian anggota masyarakat yang ditindas –sadar atau taksadar- oleh anggota masyarakat yang lain. Ketidakadilan sosial mulai nampak ketika hanya segelintir orang yang bisa menikmati produk-produk ekonomi. Dalam istilah Marx, ketidakadilan sosial itu nampak dengan adanya konflik yang tak pernah usai antara dua kelas: kelas pekerja dan kelas penguasa. Pada galibnya, ketidakadilan sosial adalah realita. Realita tersebut haruslah ditemukan akar permasalahannya. Problem ketidakadilan sosial pun adalah sebuah pertanyaan, pertanyaan yang perlu direnungkan oleh umat manusia bersama-sama untuk menemukan jawabannya. Semua ini jelas karena ketidakadilan sosial adalah bentuk de-humanisasi manusia. Sebuah pengkhianatan terhadap natur manusia sebagai makhluk sosial. Makhluk sosial yang sesungguhnya hidup bersama-sama dalam komunitas, komunitas global umat manusia. Bagaimanapun, apapun bentuk-bentuknya, ketidakadilan sosial harus dilawan!
            Lalu bagaimana melawannya? Bagaimana menjawab problematika ketidakadilan sosial? Bagaimana menemukan akar permasalahan akut mengenai ketidakadilan sosial? Di tempat ini penulis tidak akan mengeksplorasi semua pertanyaan tersebut, tapi sebagai mahasiswa yang prihatin dengan efek-efek langsung ketidakadilan sosial terhadap masyarakat kelas bawah –bahkan sebagai seorang yang merasa sebagai korban dari ketidakadilan sosial, penulis tergerak untuk menawarkan –setidak-tidaknya satu jawaban bagi permasalahan mengenai ketidakadilan sosial ini. Mengambil istilah-istilah popular yang dipakai oleh beberapa teolog ahli, solusi ini seringkali disebut sebagai “communities of resistence”[1] atau pun “covenantal community”[2], komunitas alternatif, yang etika kehidupannya bersandarkan kepada ajaran-ajaran dan praktik etis dari Tuhan dan Juruselamat kita, yakni Yesus dari Nazaret.
            Diskusi mengenai hal yang demikian sebenarnya merupakan tema yang umum dalam studi keilmuan teologi Biblika Perjanjian Baru. Pada faktanya, diskusi mengenai pesan-pesan Injil Yesus bagi terciptanya sebuah tataan masyarakat sosial yang bersendikan keadilan dan kebenaran sedang marak dan menggeliat dengan amat giat.[3] Meskipun akan sangat terburu-buru sekali jika mengatakan bahwa pesan utama Yesus dari Nazaret ketika datang ke dunia ini adalah melakukan revolusi sosial masyarakat, namun harus kita akui bahwa Injil Yesus Kristus juga bersangkut paut mengenai perbaikan keadaan sosial masyarakat di dunia yang saat ini. Jelaslah kalimat dari Horsley: “The kingdom of God in Jesus preaching and practice…was concerned with person, individually and socially”.[4] Pemulihan relasi manusia secara individu dengan Allah melalui karya salib Kristus seharusnya menghantarkan pula kehidupan sosial umat manusia yang lebih baik di dunia ini.
            Dalam tulisan yang lebih bersifat esai daripada tulisan ilmiah ini, penulis mencoba untuk fokus memerhatikan bagaimana Yesus membangun sebuah komunitas alternatif yang meresistensi bentuk-bentuk ketidakadilan sosial pada jaman-Nya. Pertama, penulis secara singkat akan menelusuri bentuk-bentuk ketidakadilan sosial yang Yesus alami pada masa ketika Ia hadir di dunia, yakni konteks Palestina abad pertama. Kedua, memperhatikan teks-teks khusus dalam Injil-injil sinoptik yang menunjukkan karakteristik komunitas alternatif yang Yesus tawarkan. Terakhir, memaknai jawaban Yesus tersebut dalam konteks ketidakadilan sosial yang dialami masyarakat masa kini, khususnya dalam konteks ber-Indonesia.

KETIDAKADILAN SOSIAL DALAM KONTEKS PALESTINA ABAD PERTAMA[5]
            Setiap masyarakat secara unik menampilkan bentuk-bentuk ketidakadilan sosialnya masing-masing. Namun sejatinya ada kesatuan ide yang terdapat di dalam variasi bentuk-bentuk ketidakadilan sosial tersebut yakni adanya sistem dominasi. Bagian ini akan coba menjelajahi sistem dominasi dunia Palestina abad pertama, kemudian memaparkan bentuk-bentuk konkrit ketidakadilan sosial dalam masyarakat agrikultural Palestina abad pertama. Bentuk-bentuk konkrit itu mewujud dalam pungutan pajak yang berlebihan oleh pemerintahan Roma pada waktu itu.
 Sistem Dominasi
            Marcus Borg mengatakan bahwa “The Roman World in which Jesus lived was an imperial form of a preindustrial agricultural domination system.”[6] Bentuk masyarakat ini adalah bentuk yang paling umum sebuah masyarakat yang memiliki kultur bercocok-tanam. Masyarakat agrikulutral dimulai ketika cara hidup manusia mengalami perpindahan dari cara hidup nomaden dan kecil secara jumlah, menjadi cara hidup yang menetap dan dialami bersama-sama dalam komunitas yang lebih luas. Perpindahan cara hidup inilah yang menyebabkan mulai munculnya tempat-tempat pemukiman, menjadi sebuah desa, dan kemudian berkembang menjadi lebih luas, menjadi kota dan pada akhirnya menimbulkan adanya sebuah negara. Terbangunnya sebuah pemukiman penduduk menghadirkan konflik antara mereka yang mampu dan tidak mampu. Di dalam konflik tersebut mulai hadirlah sebuah sistem yang mengatur kehidupan masyarakat. Sistem ini diawasi dan dijalankan oleh pemerintah, yang sebenarnya merupakan ‘representasi’ dari kelas yang mampu, kelas yang berkuasa. Perlahan-lahan sistem pengaturan atau pemerintahan ini berubah, menjadi sebuah sistem kultur dominasi. Dominasi ini hadir ketika penguasaan alat produksi hanya dimiliki sebagian dari anggota masyarakat. Maka terjadilah ketidakadilan sosial.
Bagaimana sistem dominasi ini mengejawantah dalam dunia Palestina abad pertama? Sistem dominasi bila ditelisik, memiliki empat karakter yang jelas, yakni: menindas secara politik, ekspoitatif secara ekonomis, dilegetimasi oleh oknum religius, dan ditandai dengan konflik militer.[7] Tidak cukup ruang untuk memaparkan secara rinci karakter-karakter dari sistem dominasi ini. Tapi cukuplah disini kita mengerti karakter yang penulis rasa paling menemukan kesejajarannya dalam konteks masa kini: eksploitatif secara ekonomi. Ekploitasi secara ekonomi dimulai terlebih dulu dengan adanya stratifikasi kelas masyarakat, yakni masyarakat dua kelas.
 Masyarakat Dua Kelas[8]
            Ilmu sosiologi menjelaskan bahwa ada stratifikasi sosial di dalam sebuah masyarakat. Stratifikasi sosial itu bisa saja berdasarkan ekonomi, status pendidikan, bahkan stratifikasi berdasarkan keturunan. Di dalam konteks sosio-budaya Roma-Yunani, stratifikasi sosial dilakukan dengan dasar kemampuan secara ekonomi. Hal inilah yang mendasari karakteristik sistem dominasi yang eksploitatif secara ekonomi. Sistem stratifikasi sosial masyarakat Palestina abad pertama mempunyai dua klasifikasi utama keanggotaan masyarakat: masyarakat kelas atas dan masyarakat kelas bawah. Terdengarkah sangat jelas gaung pernyataan Karl Marx yang telah penulis di atas? Demikianlah adanya!
            Kelas atas, di dalam masyarakat Roma pada waktu itu menempati posisi 1% dari jumlah keseluruhan masyarakat. Sedangkan, masyarakat kelas bawah, adalah mereka yang mempunyai kekayaan yang sangat sedikit atau bahkan tidak ada mempunyai. Masyarakat kelas bawah ini terhitung 99% dari populasi. Dua kelas ini masih terbagi-bagi lagi di dalam sub-subkelas. Dalam tingkatan masyarakat kelas atas sendiri terdapat tiga jenis kelas aristokratik. Pada intinya, kelas atas adalah mereka yang minimal mempunyai uang sejumlah 25.000 dinar, serta memiliki kekuatan yang cukup secara militer.
            Bagaimana masyarakat kelas bawah dalam konteks budaya Roma-Palestina abad pertama? Masyarakat kelas bawah ini adalah mereka yang mempunyai bisnis, namun dengan frekuensi sangat kecil, baik itu dari pertanian mau pun melalui pekerjaan-pekerjaan tangan yang merupakan bentuk usaha ekonomi kecil yang populer waktu itu. Masyarakat kelas bawah ini juga terdiri dari para budak atau juga orang-orang yang sudah dibebaskan dari perbudakan oleh tuannya sendiri. Singkat kata, masyarakat kelas bawah adalah mereka-mereka yang bergantung secara ekonomis kepada masyarakat kelas atas untuk dapat menghidupi kebutuhan mereka.
            Adanya stratifikasi sosial kelas bawah-atas inilah yang menunjukkan bahwa sistem dominasi itu hadir dan bersifat eksploitatif secara ekonomi. Sifat eksploitatif secara ekonomi itu lebih nampak jelas, ketika kita memperhatikan sistem perpajakan yang diterapkan di dalam pemerintahan Roma. Bahkan, masyarakat kelas bawah makin tertindas dengan adanya double-taxation yang dikerjakan.

Pajak yang berlebihan[9]
            Dalam dunia Palestina abad pertama, terdapat tiga jenis pajak yang dibebankan. Pertama, yakni pajak tanah, dimana setiap pemilik atau pekerjan tanah diharuskan menyetor sepersepuluh persen dari produksi tanah tersebut kepada pemerintah Roma. Kemudian, pajak perkepala, yakni setiap rakyat yang terhitung di dalam sensus penduduk diwajibkan membayar sebesar 1 dinar kepada pemerintah. Selain itu, masih ada pajak yang dibebankan kepada rakyat ketika keluar-masuk kota, jumlahnya bervariasi. Di samping pajak yang dibebankan kepada masyarakat umum yang harus diserahkan kepada pemerintah Roma, bagi orang Yahudi sendiri terdapat beban yang lain, yakni pajak bait suci. Objek pajak bait suci ini adalah orang lelaki Yahudi yang berumur duapuluh tahun ke atas. Jumlah pajak ini adalah setengah shekel perak. Pajak ini dipakai untuk perawatan Bait suci. Namun pada perkembangannya banyak korupsi terjadi disana-sini dan pajak bait suci ini pun dipakai sebagai keuntungan bagi pemegang otoritas religius waktu itu.
            Dengan tuntutan pajak yang berlipat-lipat, dapat kita lihat betapa menderitanya hidup sebagai masyarakat kelas bawah di dalam konteks Palestina abad pertama. Seorang pekerja di dalam kalkulasinya ternyata harus menyumbangkan 35% dari hasil pekerjaannya. Beban masyarakat kelas bawah semakin bertambah ketika mereka juga diwarnai ketergantungan terhadap utang-piutang yang juga marak dilakukan oleh rentenir pada waktu itu. Masyarakat kelas bawah pun terkungkung dalam kesusahan hidup mereka sendiri, sedangkan kalangan kelas atas, kalangan aristokrat menikmati hasil penghisapan mereka sendiri. Slogan terkenal itu pun bergema: yang miskin semakin miskin, dan yang kaya semakin kaya.
            Dapat kita lihat bagaimana sistem dominasi yang dihasilkan dari masyarakat dua kelas, menghadirkan bentuk ketidakadilan sosial yang mewujud dalam sistem perpajakan yang eksploitatif dan sewenang-wenang. Yesus dari Nazaret memberikan perlawanan terhadap bentuk ketidakadilan sosial ini melalui komunitas alternatinif yang Ia bentuk yaitu Komunitas kerajaan Allah.

KOMUNITAS ALTERNATIF ALA YESUS
             Di tengah dunia yang tidak berpihak kepada rakyat jelata, di mana sistem dominasi begitu sewenang-wenang, Yesus menghadirkan Injil-Nya. Tentu harus kita sadari, kehadiran Yesus di dunia ini terutama adalah untuk mengadakan pendamaian dengan manusia yang berdosa. Implikasi secara langsung bagi umat yang sudah diselamatkan, yang sudah diperbaharui hubungannya dengan Allah, salah satunya adalah tindakan pembaharuan di dalam kehidupan secara sosial. Komunitas alternatif ala Yesus ini setidak-tidaknya memiliki tiga esensi mendasar: Komunitas pengampunan, komunitas egalitarian, dan komunitas saling berbagi-saling memiliki.
 Komunitas pengampunan
            Yesus hadir pertama-tama untuk mentraformasi kehidupan secara personal. Transformasi ini akan menghasilkan efek luar biasa secara sosial pula. Transformasi ini dimulai secara personal antara Allah dan manusia. Karakteristik komunitas alternatif Yesus adalah komunitas yang dimulai dengan adanya pengampunan. Yesus sendiri berkata: “Hai anak-Ku dosamu sudah diampuni!” (Mrk. 2:5, Mat. 9:2, Luk. 5:20). Jelas, titik pangkal komunitas alternatif Yesus adalah berkaitan dengan pengampunan. Dalam doa bapa kami pun kita dapati: “Ampunilah kesalahan kami” jelas hal iniberkaitan erat dengan pengampunan. Penulis Perjanjian Baru pun merekatkan pemahaman kepada gereja, bahwa Yesus mati dan bangkit untuk pendamaian dosa, pengampunan segala sesuatu (cth: 1Yoh 2:2, Kol 1:19-20).
            Teologi konservatif memahami bahwa asal muasal segala problematika kehidupan manusia adalah kondisi manusia pasca-kejatuhan. Sejak berdosanya Adam dan Hawa di taman Eden, natur manusia menjadi rusak. Manusia menjadi sosok-sosok yang menghisap sesamanya. Inilah yang terjadi dalam sejarah umat manusia selama berabad-abad. Di tengah kondisi yang demikian Allah menyatakan diri-Nya melalui Yesus, “gambar Allah” (Kol. 1:15). Melalui Yesus, hubungan Allah-manusia yang rusak itu direkonsiliasi. Inilah pengampunan. Pengampunan Allah kepada manusia melalui iman di dalam Kristus adalah dasar terbentuknya komunitas alternatif. Komunitas alternatif ini adalah mereka yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
            Jawaban Yesus terhadap ketidakadilan sosial yang melanda jaman-Nya, pertama-tama adalah membentuk komunitas pengampunan. Semua orang yang berdosa diampuni. Tidak terbatas hanya kepada orang Yahudi, namun juga orang Roma sebagai pelaku utama ketidakadilan sosial pada jaman-Nya. Ketika dunia Palestina abad pertama dihantui oleh ketidakadilan sosial, dan jawaban orang Yahudi kebanyakan adalah memakai jalur kekerasan. Yesus menawarkan jalur yang lain: pengampunan. Pengampunan adalah penerimaan terhadap orang yang telah bersalah. Yesus mengampuni terlebih dahulu tindakan-tindakan kekerasan yang dberlakukan manusia pada jaman-Nya. Dengan tindakan demikian Yesus mulai membangun komunitas alternatif-Nya menjadi sebuah komunitas yang egaliter. Komunitas yang sederajat, komunitas tak menekankan perbedaan dalam menjalin relasi sosialnya.
 Komunitas Egaliter
Setelah mendasari komunitas-Nya berdasarkan pengampunan dan penerimaan. Yesus terus membangun komunitas-Nya. Telah kita lihat bahwa dalam konteks dunia Palestina abad pertama, stratifikasi sosial begitu nampak melalui jalinan oposisi dua kelas. Pembedaan-pembedaan yang ada tidak berhenti dalam masalah ekonomi saja, namun juga merambah pada permasalahan etnis. Bagi dunia waktu itu, nampaknya orang Yunani lebih dihargai daripada orang non-Yunani. Tapi apa yang Yesus lakukan?
            Bayangkan, Yesus menerima pemungut cukai yang dibenci bangsa Yahudi. Bahkan salah satu murid-Nya berasal dari kalangan ini. Yesus menerima perempuan Samaria, yang dimusuhi oleh orang Yahudi. Yesus menerima orang sakit kusta, yang dicap negatif oleh konteks dunia-Nya. Dua belas murid Yesus pun berasal dari latarbelakang yang berbeda-beda, dan Yesus menerima mereka semua. Tak berhenti disitu, Yesus pun menerima orang-orang kaya yang mau bertobat dan mengikut Dia, contoh salah satunya adalah Yusuf dari Arimatea. Yesus juga menerima pejabat pemerintahan Roma, yang jelas-jelas adalah musuh utama orang Yahudi. Yesus pun sebenarnya menerima otoritas religius Yahudi, asalkan mereka tidak menolak Dia. Dengan gamblang, Injil sinoptik melaporkan bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa.
Komunitas yang dibangun Yesus adalah komunitas yang egaliter. Inilah visi yang ditangkap Rasul Paulus sehingga ia dapat menuliskan: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28). Tidak ada pembedaan strata bagi mereka yang ada di dalam Yesus, semua sama dan sederajat, komunitas yang juga non-patriarkal dan susunan hirarki. Inilah mengapa Yesus sangat subversif! Yesus menawarkan jalan kehidupan yang lain daripada yang lain. Kehidupan yang berasaskan sama rata, egaliter! Jalan kehidupan yang amat kontras dengan cara pandang Romawi yang menempatkan orang melalui strata sosial ekonominya.
 Komunitas saling berbagi-saling memiliki
            Pembentukan komunitas alternatif Yesus terus mengalami perkembangan. Setelah membentuk komunitas yang egaliter, Yesus membangun komunitas-Nya sebagai komunitas yang saling berbagi dan saling memiliki. Ini semua karena efek langsung dari ‘pengampunan’ yang Yesus berikan. Perhatikan narasi pertobatan Zakheus dalam Lukas 19:1-10. Sontak setelah mendapatkan penerimaan dari Yesus, Zakheus pun dengan berani memberikan apa yang ia miliki bagi orang-orang yang tertindas. Perhatikan pula, apa yang Yesus katakan kepada anak muda yang kaya: “Bagikanlah hartamu kepada orang-orang miskin.” Bagi Yesus, mereka yang masuk ke dalam komunitas alternatif-Nya tidak lagi hidup bagi diri sendiri, tapi hidup bagi sebuah komunitas, hidup bersama, hidup yang saling berbagi dan saling memiliki. Hidup yang segala sesuatunya bukan lagi untuk diri sendiri, namun bagi Allah, dan bagi komunitas yang sama-sama telah merasakan pengampunan dari Allah.
            Inilah visi yang ditangkap oleh Rasul Paulus dan gereja purba. Perhatikan catatan sejarah cara hidup gereja perdana. Kisah Para Rasul 4 melaporkan: “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.” Gereja perdana jelas secara gamblang mewujudnyatakan komunitas alternatif Yesus dalam kehidupan berjemaat. Lalu bagaimana dengan Rasul Paulus? Dalam Kisah Para Rasul dan Surat Roma kita melihat bagaimana Rasul Paulus berusaha untuk mengumpulkan sumbangan-sumbangan uang dari jemaat hasil pekerjaan misinya, yakni jemaat-jemaat non-Yahudi. Ini adalah bentuk gamblang dari komunitas alternatif yang saling berbagi-saling memiliki. Jemaat-jemaat non-Yahudi yang notabene jemaat yang kaya diajak untuk turut berbagi bersama jemaat Yerusalem yang ditengarai jemaat Yahudi yang berada di strata kelas bawah.
Inilah komunitas alternatif hasil bentukan Yesus. Di tengah dunia Greco-Roman yang kulturnya individualis, mengambil untung bagi dirinya sendiri, dan tidak peduli kepada mereka yang tertindas. Kekristenan muncul dengan visi komunitas alternatif Yesus, menawarkan jalan hidup yang egalitarian, dan memberikan solusi bagi mereka yang tereksploitasi secara ekonomi, yakni melalui komunitas yang anti-individual, komunitas yang saling berbagi-saling memiliki!

MEMAKNAI KOMUNITAS ALTERNATIF YESUS DALAM KONTEKS MASA KINI
             Ketika mengerjakan tulisan ini, penulis membaca beberapa berita yang menunjukkan fakta konkrit bentuk-bentuk ketidakadilan sosial dalam konteks Indonesia. Baru-baru yang lalu terjadi konflik ketika adanya kebijakan dari pemerintah yang berniat menggusur rumah penduduk yang berada di tempat yang tidak seharusnya. Bahasa yang berbalutkan kekerasan pun dipakai dan pada akhirnya orang-orang kelas bawah yang jadi korban, baik secara fisik, mental, dan materiil. Sedangkan mereka yang menentukan keputusan penggusuran dengan nyamannya tetap dapat duduk di kursi mereka. Sering pula kita dapati berbagai berita yang menggambarkan nyatanya ketidakadilan sosial dalam masyarakat kita. Bocah bunuh diri karena tidak mampu membayar uang sekolah. Nenek atau kakek yang hidup sendiri tanpa perhatian sosial. Buruh-buruh yang terus-menerus protes menuntut upah yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Bentuk-bentuk ketidakadilan sosial sungguh nyata merajalela dalam konteks hidup masyarakat Indonesia. Lalu dimana gereja? Dimana parachurch? Dimana lembaga-lembaga dan institusi Kristiani menempatkan diri sebagai komunitas alternatif Yesus?
 Reformasi dari Dalam
            Bagi penulis, langkah pertama yang lembaga-lembaga Kristen harus lakukan adalah reformasi dari dalam. Sebagai penerus komunitas alternatif Yesus yang berakar pada iman gereja mula-mula dan praksis duabelas murid Yesus, lembaga-lembaga Kristiani harusnya menunjukkan dulu di dalam dirinya, komunitas alternatif yang egaliter dan komunitas saling berbagi-saling memiliki. Sering kita dapati bahwa di dalam lembaga-lembaga Kristen masih terdapat sebuah susunan hierarkis yang berdasarkan kemampuan ekonomi, relasi sosial mau pun, etnis-keturunan. Sering pula kita dapati dalam institusi religius Kristiani kurang memperhatikan sesamanya, banyak anggota gereja yang kaya, banyak gereja-gereja megah dibangun, padahal di tempat lain masih banyak anggota gereja yang miskin, dan gereja-gereja yang minim. Karena itulah dengan pemahaman konseptual-teologis yang sudah penulis paparkan di atas, semestinya lembaga-lembaga Kristiani mulai bergerak untuk mereformasi dari dalam terlebih dulu. Mereformasi dirinya terlebih dulu. Hierarki sosial dan ekonomi dalam gereja harus diberantas, individualisme jemaat harus dihindarkan!
            Jika lembaga-lembaga Kristiani, Gereja, PMK, dan PSK mampu benar-benar menerapkan komunitas alternatif Yesus di dalam dan pada dirinya sendiri, maka lembaga Kristiani telah memberikan jawaban bagi bentuk-bentuk ketidakadilan sosial di Indonesia. Inilah mengapa kita bisa menjadi garam dan terang di tengah dunia. Setelah reformasi dari dalam, maka lembaga-lembaga Kristiani pun mulailah bergerak keluar. Misi gereja adalah memberitakan kabar baik, kabar baik itu bersifat personal sekaligus sosial. Pewartaan Injil Yesus bukan sekedar masalah keselamatan di akhirat nanti, namun juga perbaikan hidup secara sosial di dunia masa kini. Lembaga-lembaga Kristiani haruslah menuntun masyarakat dimana mereka hadir, menuju pemahaman yang tepat agar bentuk-bentuk ketidakadilan sosial sedikit-demi sedikit dapat dikurangi. Hal ini dapat dimulai dengan melakukan diskusi-diskusi dan dialog-dialog untuk meningkatkan kerjasama bersama agar bentuk-bentuk ketidakadilan sosial boleh dikurangi. Jadi, setelah menyelesaikan masalah ‘hati’, lembaga-lembaga Kristen meneruskan pembaharuan tersebut dengan memperhatikan aspek konseptual dalam pola berpikir masyarakat. Agar masyarakat tak lagi berpikir individualis, namun mulai memikirkan sesamanya dalam konteks yang luas. Jika gereja, dan semua lembaga Kristiani mampu melakukan reformasi dari dalam, menjalankan visi alternatif Yesus, dan kemudia mewartakan visi itu keluar dan mewujudnyatakannya secara konkrit, maka setidak-tidaknya dunia kita akan menjadi dunia yang lebih baik.
            Penulis ingin mengutip kalimat dari Horsley: “The imperial order was still in place. But Jesus was calling people to take control of and rebuild their own community life…”[10] Sistem dominasi, dan bentuk-bentuk ketidakadilan sosial jelas masih berkuasa dan sangat nyata berada di sekeliling kita. Namun, Yesus memanggil kita untuk bersama-sama membangun komunitas hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya. Komunitas kerajaan Allah, yang bersendikan kasih, keadilan dan kebenaran, egaliter, non-hirarki, dan saling berbagi-saling memiliki. Panggilan itu akan terus menggema hingga Yesus menyatakan diri-Nya untuk kali yang kedua dan datang untuk mewujudkan komunitas yang baru, dunia baru ciptaan Allah. Biarlah kalimat nabi Amos terus menerus mengingatkan kita, untuk dapat memerangi bentuk-bentuk ketidakadilan sosial dalam dunia ini: “Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang” (Amos 5:15).
            Resistensi terhadap ketidakadilan sosial harus dilakukan!

Oleh: Himawan Teguh Penulis adalah mahasiswa yang sedang menempuh studi S.Th di Sekolah Alkitab Asia Tenggara.

[1]Misalnya: John Dominic Crossan, The Birth of Christianity: Discovering What Happened in the Years Immeadiately after the Execution of Jesus. (New York: HarperCollins, 1998).
[2]Richard Horsley, Jesus and Empire: The Kingdom of God and the New World Disorder (Minneapolis: Fortress, 2003)
[3]Untuk ini pembaca dapat menelusuri buku-buku Crosan dan Horsley di atas. Buku-buku yang lain misalnya karya Horsley yang lain dalam Jesus and Spiral Violence: Popular Jewish Reistance in Roman Palestine (Minneapolis: Fortress, 1987). Maupun dari Marcus Borg, Jesus: Uncovering the Life, Teachings, and Relevance of a Religious Revolutionary (New York: HarperCollins, 1989). Penulis tidak terlalu setuju dengan kesimpulan-kesimpulan para sarjana tersebut, namun harus diakui bahwa karya-karya di atas sangat baik untuk mengerti latar-belakang Palestina abad pertama.
[4]Horsley, Jesus and Spiral 324.
[5]Bagian ini adalah saringan dari beberapa literatur yang penulis temukan. Literatur-literatur tersebut antara lain: Ferguson, Everett. Background of Early Christianity (GrandRapids: Eerdmans, 1990). Kemudian, bahan yang amat baik adalah: Dictionary of New Testament Background. (Craig Evans and Stanley Porter (ed); Downers Grove: IVP, 2000).
[6]Borg, Jesus: Uncovering 79
[7]Ibid. 81-82
[8]Untuk sumber singkat mengenai hal ini: Dictonary of New Testament Background 1001-1003.
[9]Lihat : Dictionary of New Testament Background 1163-1167.
[10] Jesus and Empire 128.


Komentar