oleh
Robin Ignatius Chandra, S.Psi.
"Usahakanlah
kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada
TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu"
Yeremia
29:7
Selama
72 tahun usia negara kita, umat Kristen di Indonesia telah menunjukkan
komitmennya terhadap Pancasila, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik
Indonesia tanpa cacat. Namun seringkali komitmen ini kita jalani begitu saja,
tanpa ada suatu usaha nyata. Atau jika kita lakukan, upaya tersebut sering
tanpa kesadaran penuh dan motivasi yang jelas.
Firman
Tuhan yang disampaikan kepada Yeremia ketika bangsa Israel mengalami pembuangan
di Babilonia, kembali mengingatkan kita sebagai orang percaya bahwa Tuhan
menghendaki umat-Nya melakukan usaha yang nyata untuk menghadirkan shallom bagi
negeri di mana mereka tinggal. Tuhan berkehendak agar umat-Nya tidak sekadar
berdoa kepada-Nya, tetapi melakukan tindakan konkrit bagi shallom, yaitu
sebuah kondisi yang mencakup kedamaian yang berakar pada relasi yang benar di
hadapan Tuhan.
Saya
meyakini kita bukanlah orang-orang Kristen yang ditempatkan Tuhan secara
kebetulan dalam negara ini, untuk kemudian masuk dalam segala kompleksitas
permasalahan yang terjadi, terlebih dalam situasi saat ini. Dasar negara yang
lahir dari sebuah perjuangan yang hebat untuk merebut kemerdekaan, yang juga
telah mengatur dan mempersatukan bangsa ini sekian lama, kembali dipertanyakan
dan bahkan hendak digeser. Sudah seharusnya sebagai umat Tuhan, kita berperan
aktif dalam penegakan pilar-pilar kebangsaan negara ini. Cita-cita dari
Pancasila adalah menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
dan hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan isi hati Allah bagi manusia.
Bukankah hadirnya Kerajaan Tuhan di muka bumi merupakan kehendak-Nya, dan
sekaligus sebuah tanggung jawab setiap orang percaya dalam dunia ini (Matius
6:9-10)? Namun, sayangnya banyak orang kurang memahami makna hal ini dengan
tepat. Kerajaan Allah bukan berbicara tentang sebuah territorial, ataupun
kerajaan secara fisik. Hadirnya Tuhan (Pikiran, Kehendak, maupun Perasaan)
dalam setiap aspek yang ada di dunia ini adalah inti pemikiran untuk memaknai
hadirnya Kerajaan Allah di muka bumi.
Sudahkah
kita berperan aktif dalam menghadirkan Kerajaan Allah dalam negeri kita,
sehingga dari hari kesehari semakin lebih baik; dimana shallom dalam
bangsa ini dirasakan secara nyata?
(Penulis
melayani Pelayanan Siswa Surabaya)

Komentar
Posting Komentar