STUDENT
"YESTERDAY," ARE YOU A (SERVANT) LEADER TODAY?
oleh
Fransisca Riswandari, M.Div.
Hadirnya
pemimpin merupakan kebutuhan tak terelakkan bagi manusia di dalam komunitasnya.
Keluarga, perkantoran, wilayah, sekolah, kampus, agama, organisasi, negara
semua memerlukan pemimpin. Pemimpin mendorong dan mempengaruhi orang lain untuk
mencapai satu tujuan tertentu. Tanpa pemimpin, terjadi chaos di dalam
setiap lini kehidupan. Bagi kekristenan tujuan tertentu itu tidak dapat
dilepaskan dari tujuan Allah yang menciptakan segala sesuatu, yaitu untuk
kemuliaan Tuhan-Tuhan dihormati oleh semua mahkluk. Tujuan kepemimpinan bagi
orang percaya adalah bagaimana seseorang bisa memengaruhi manusia lain untuk
mengelola dan mengerjakan bumi dengan bijak sehingga mendatangkan kemuliaan
bagi Tuhan-membawa apa yang baik, yang benar di mana Tuhan dihormati. Dampaknya
adalah membawa kemaslahatan bagi orang banyak.
Dengan
dasar pemikiran itulah Perkantas terus membentuk pemimpin.
"Menggodok" kurikulum pembinaan lengkap dengan suplemennya, bak
perkuliahan lengkap dengan sks dan praktiknya. Berbagai upaya, dibalut dalam tenaga,
doa, dana terus diupayakan. Hakikat mahasiswa adalah kesadaran akan tujuan
hidup, hakikat alumni adalah tanggung jawab. Dalam kedua fase ini Perkantas
mengambil peran, mempersiapkan siswa-mahasiswa dan mengutus mereka ke tengah
dunia untuk membentuk keluarga yang baik, menjadi berkat bagi gereja, bangsa
dan dunia. "Student Today, Leader Tomorrow" menjadi spirit untuk
mencetak alumni yang asin dan benderang-membawa pengaruh baik bagi masyarakat
dalam pengabdian. Menjadi pertanyaan bagi kita semua yang telah dibina selama
ini: student "yesterday," are you a (servant) leader today?
SERVANT
LEADER
Tanggung
jawab alumni adalah untuk memimpin di segala area. Tidak ada konsep
kepemimpinan lain yang dimiliki oleh kekristenan selain konsep "servant
leader". Perwujudan kinerja yang terfokus pada "service" ini
termaktub dalam Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Para nabi dan
para raja dipilih Tuhan untuk memimpin jemaat menghormati Allah, hidup bagi
Allah dan dampaknya rakyat mendapat berkat jasmani dan rohani. Kesempurnaan
teladan servant leader diajarkan dan diperagakan sendiri oleh Yesus
Kristus melalui inkarnasi, kehidupan dan kematian-Nya. Yesus tidak mencari
kepentingan sendiri la tidak mempertahankan hak kesetaraan-Nya dengan Allah
(Flp. 2:6-7). Semua dilakukan demi satu tujuan: keselamatan manusia.
Dalam
dua-tiga dekade terakhir ini telah muncul pemikiran tentang apa yang dinamakan
"servant leader". Dunia usaha dan lembaga-lembaga pendidikan secara
luas dan intensif berbicara dan menerapkan konsep ini. Kini beberapa
universitas di Amerika Serikat telah menawarkan program studi dengan kurikulum
yang mencakup "servant-leadership". Berbagai universitas menampilkan
hasil penelitian dan tulisan akademik dengan "servant leadership"
sebagai pokok bahasannya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa konsep kepemimpinan
berbasis Alkitab telah dipelajari dan diterapkan di luar tembok Gereja. lni
adalah kesempatan bagi kita untuk menyatakan dan memperagakannya. Melayani
bukan berarti kehilangan kuasa dan wibawa, sehingga hidup menjadi pesuruh.
Melayani adalah mengerjakan kepentingan kesejahteraan orang banyak. Robert K.
Greenleaf ( 1904-1990 )-tokoh dunia bisnis yang mempopulerkan dan menerapkan
konsep "servant leader", menyatakan pertama-tama pemimpin-pelayan
adalah pelayan. Pada dirinya ada perasaan alami untuk melayani. Kemudian, ada
keputusan yang sadar untuk memimpin. Bukti terbaik kepemimpinannya ialah:
Apakah mereka yang dilayani bertumbuh sebagai pribadi bermartabat? Apakah
sementara mereka dilayani mereka menjadi lebih sehat, lebih arif, lebih bebas,
lebih mandiri, dan lebih besar peluangnya untuk juga menjadi pelayan? Lalu,
apakah dampaknya terhadap mereka yang paling menderita di dalam masyarakat:
apakah ada sesuatu keuntungan bagi mereka, atau paling kurang apakah nasibnya
tidak menjadi lebih buruk? Jadi bukti adanya kepemimpinan-pelayan tampak pada
meningkatnya kesejahteraan lingkungan di mana kita berada.
MEMIMPIN
DENGAN KONSISTENSI
Memimpin
membutuhkan ketekunan yang memandang jelas pada tujuan akhir. Pembinaan di
dunia siswa dan mahasiswa menjadi dasar yang kuat bagi penemuan tujuan hidup
dan penajamannya, bagi pembentukan karakter dan mental. Membangun kehidupan
sangat penting, ibarat membangun sebuah kapal besar. Namun, untuk berlayar
perlu upaya tiap hari memegang kendali kemudi dan mengarahkan kapal menuju
tempat yang benar. Tanpa itu, kapal hanyalah sebuah kapal. Demikian bangunan
kehidupan kita yang sudah kuat, tidak akan berarti apa-apa ketika sebagai
alumni tidak mengendalikan dan mengarahkan kehidupan kepada tujuan yang
ditetapkan Allah dari semula.
Konsistensi
dimulai dari kesadaran akan panggilan memimpin. Panggilan ini bersifat mutlak
(Yohanes 3:27) dan menjadi dasar kepemimpinan kita. Karena Allah yang
memanggil, maka mereka yang dipanggil menemukan diri mereka juga dipanggil
dalam tugas kepemimpinan (bdk. Yoh. 15:16; 10:28, 29; Ro. 12:8; Ef. 4:11-16;
Kel. 18:17-21; dan Kis. 6:1-7). Kesadaran ini akan terus membawa alumni dalam
kehidupan yang berintegritas, karena seluruh hidupnya terus diselaraskan dengan
rancangan Allah tersebut. Melangkah ke tahap berikutnya, berani meningkatkan
kapasitas dan kompetensi guna efektivitas tanggung jawab kepemimpinannya. J.
Robert Clinton mengatakan, "Pemimpin Kristen ialah seseorang yang
dipanggil Allah sebagai pemimpin, yang ditandai dengan kapasitas memimpin,
tanggung jawab pemberian Allah untuk memimpin suatu kelompok umat Allah
(gereja), untuk mencapai tujuan-Nya bagi dan melalui kelompok ini." Kuasa
penebusan Kristus oleh Roh Kudus yang berkarya di dalam diri, dan dinamika
rohani yang mendewasakan dan menjadikan alumni sebagai pemimpin rohani yang
handal. Di sisi lain, sebagai pemimpin yang bertanggung jawab, ia akan terbukti
kompeten dengan kinerja yang membawa kebaikan bagi semua pihak dalam kepemimpinannya.
Kehidupan pemimpin tidak pernah mudah, apalagi menjadi pemimpin yang melayani.
Anda akan semakin sibuk dan mungkin semakin banyak yang akan Anda korbankan,
bahkan mungkin akan mengalami kehilangan. Kehilangan waktu untuk diri sendiri,
kehilangan uang untuk hidup senang. Respons yang muncul adalah terus berjuang
atau sebaliknya, berpikir tidak perlu muluk hidup mengarah, asalkan bisa
bertahan
berlayar
sudah cukup baik. Kejatuhan lebih dalam dari hal itu adalah, berbalik arah
menuju tempat lain yang bukan dermaganya, yaitu seluruh upaya kita adalah untuk
melayani diri bahkan jika perlu "menggadaikan" Tuhan demi
penghidupan. Skandal berjemaah tanpa janjian yang menghiasi layar kaca kita
setiap hari menyingkap pemimpin untuk kepentingan diri. Hal ini tentu mengingkari
peran kita sebagai "Societies Deo" (Umat Tuhan, Red.) yang seharusnya
dalam kehidupannya menempatkan Kristus sebagai pusat dan di atas segalagalanya
serta terlibat dalam rancangan penyelamatan Allah yang membebaskan manusia dari
dosa. Pondasi kepemimpinan Kristen yang kuat seperti ini memungkinkan gereja
berkiprah mempengaruhi dunia abad XXI dengan nilai kekal dari hidup dan ajaran
Yesus Kristus, Tuhan kita. Dengan kesadaran dan sikap ini, para pemimpin
Kristen dapat menggarami dan menerangi jaman ini. Selamat menjadi pejuang servant
leader. (* Penulis melayani Pelayanan Alumni di Malang)

Komentar
Posting Komentar