oleh Tommy lndarto
Kata-Kata
Manis vs Jati Diri
Perkantas
memiliki suatu moto, "Student Today Leader Tomorrow". Moto ini
menggambarkan cita-cita/visi yang hendak dicapai, yaitu melalui proses
pemuridan di kalangan siswa/mahasiswa, kelak akan dihasilkan para pemimpin
(dalam konteks luas) yang akan menjadi berkat dimanapun dia berada (sesuai visi
Perkantas). Namun apapun motonya, pertanyaannya adalah; apakah moto tersebut
hanya menjadi "pemanis" saja, ataukah memang moto tersebut dapat selalu
memotivasi setiap orang yang terlibat untuk berusaha mewujudkannya.
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "moto" artinya: kalimat, frasa,
atau kata yang digunakan sebagai semboyan, pedoman, atau prinsip, seperti
"berani karena benar". Berdasarkan pemahaman ini, cukup jelas bahwa
moto bukan hanya sebuah kata-kata manis yang dipakai menjadi identitas, karena
moto mengandung dua unsur penting yaitu pedoman dan prinsip.
lmplikasi
moto sebagai pedoman dan prinsip adalah bahwa apapun yang dikerjakan harus
mengacu pada moto tersebut dan tidak boleh bertentangan dengan moto tersebut.
Ketika moto tersebut tidak lagi menjadi pedoman dan prinsip, maka sejatinya
kita sedang kehilangan jati diri kita sendiri. Dalam konteks Perkantas; jika
pemuridan yang dikerjakan Perkantas tidak (bertujuan) menghasilkan pemimpin,
atau ketika proses pembentukan kepemimpinan ditarik keluar dari proses
pemuridan maka bisa dikatakan Perkantas sudah kehilangan jati dirinya sebagai
Perkantas. ltu bukan Perkantas!
Menilai
Hasil Perjuangan yang Belum Usai
Jika
memang "Student Today Leader Tomorrow" menjadi bagian cita-cita yang
harus dikejar dan diwujudkan, sampai sejauh manakah kita berhasil mencapainya?
Menjawab hal ini bukanlah hal yang mudah, karena tidak ada tolok ukur standar
yang dapat dijadikan acuan. Namun minimal kita dapat menilai berdasarkan
beberapa aspek yang terdapat dalam visi pelayanan Perkantas:
"Mempersiapkan siswa dan mahasiswa menjadi alumni yang dewasa dan menjadi
berkat dalam keluarga, gereja, bangsa dan negara serta dunia melalui pemuridan:
Pekabaran lnjil, Pembinaan, Pelipatgandaan dan Pengutusan".
Menilik
visi tersebut, bagian mana yang menunjukkan proses pembentukan kepemimpinan,
kualifikasi pemimpin dan dampak kepemimpinan yang diharapkan? Mari kita lihat
satu-persatu. Aspek pertama kita nilai proses pembentukan kepemimpinan yang
terlihat dalam pernyataan "mempersiapkan siswa dan mahasiswa melalui
pemuridan: Pekabaran lnjil, Pembinaan, Pelipatgandaan dan Pengutusan".
Jelas disini bahwa sasaran pelayanan kita (calon pemimpin) adalah siswa dan
mahasiswa yang dibentuk menjadi pemimpin melalui proses pemuridan yang diawali
dengan Penginjilan sampai dengan Pengutusan. Berdasarkan aspek pertama ini
cukup jelas bahwa Perkantas telah berhasil, karena Perkantas masih setia memuridkan
siswa dan mahasiswa.
Aspek
kedua adalah hasil pemuridan tersebut, yaitu seorang pemimpin. Menurut saya
aspek inilah yang paling luas dan paling sulit untuk dinilai. Pertanyaan
utamanya, bagian mana dalam visi yang menunjuk pada pemimpin? Saya temukan minimal
ada 2 indikator tentang pemimpin yang diharapkan oleh Perkantas. lndikator
pertama adalah "dewasa". Kedewasaan yang dimaksud, menurut saya
berpadanan dengan Efesus 4:13-15, yaitu seorang anak Tuhan yang teguh berpegang
pada kebenaran dan terus bertumbuh didalam kasih ke arah Kristus sebagai
Kepala. lnilah kualifikasi pemimpin yang harus dihasilkan melalui KTB-KTB.
Bagian ini menekankan masalah karakter dan kerohanian seorang pemimpin yang
akan mempengaruhi keseluruhan hidupnya dimanapun dia berada. Apakah perlu kita
mengukur sejauh mana kematangan karakter dan kerohanian alumni yang kita bina?
Tidak perlu, karena sekali lagi, tidak ada standar ukuran yang jelas, namun
minimal kita bisa katakan bahwa alumni binaan kita terus mengarah ke arah itu
dan kita terus berperan untuk menemani dalam pergumulan yang ada melalui
kelompok-kelompok PA Alumni.
lndikator
kedua yang menurut saya juga harus dimiliki seorang pemimpin adalah
"menjadi berkat". Bagian ini menekankan masalah fungsi dan dampak
seorang pemimpin. Mungkin bisa kita katakan sebagian besar alumni yang kita
bina sudah menjadi berkat dalam keluarga. Bagaimana dengan gereja? Kita bisa
melihat juga banyak alumni yang terlibat aktif dalam pelayanan dan
penata-layanan di gereja lokal. Bahkan tidak sedikit alumni yang akhirnya
memutuskan untuk menjadi hamba Tuhan full-time di gereja atau menjadi Staf
Perkantas. Jika dirasa masih ada bagian yang kurang, bisa jadi berkaitan dengan
"peran nyata" alumni untuk bangsa dan negara dan dunia. Sekalipun banyak
alumni yang menjadi PNS (dalam segala bidang), memang faktanya masih sedikit
sekali yang memiliki posisi strategis atau memiliki posisi yang cukup tinggi
untuk dapat mempengaruhi pembuatan kebijakan yang berdampak bagi masyarakat,
khususnya dalam konteks Indonesia. Mungkin ini yang menjadi PR bagi Perkantas
ke depan.
Menjadi
Relevan
Zaman
terus berubah, generasi terus berubah, tren terus berubah. Apakah Perkantas
juga perlu berubah? Tetapkah pelayanan Perkantas relevan di zaman ini? Bisa
jadi pertanyaan ini akan terus mengemuka sampai kapanpun, namun bagi saya, visi
pelayanan Perkantas adalah visi untuk segala zaman dan semua generasi. Sebagai
organisasi Perkantas tidak perlu berubah. Namun sebagai "organisme"
Perkantas perlu menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungan (zaman) yang
ada. Moto Student Today Leader Tomorrow akan tetap relevan.
Seringkali yang ketinggalan zaman adalah pola pikir kita. Sebagai suatu
"organisme" Perkantas, kita harus menyesuaikan pola pikir kita dengan
perkembangan zaman, supaya kita tetap terkoneksi dengan zaman, sehingga kita
dapat tetap efektif menjangkau generasi zaman ini. Bukan prinsip KTB yang
diubah, namun pola pelaksanaan KTB yang perlu disesuaikan, misalkan: dulu kita
KTB minimal 2 jam, sekarang dengan makin padatnya kesibukan siswa/mahasiswa,
masih perlukah kita "paksakan" KTB 2 jam, dapatkah kita lakukan KTB
hanya dalam 1 jam? Dulu kita KTB "menarik" AKK KTB di Rumah
Persekutuan (Ruper), sekarang dengan sempitnya waktu dan tingkat "stressor"
siswa/mahasiswa yang sangat tinggi, tetapkah kita paksa mereka menikmati KTB di
Ruper, atau kita sendiri yang harus membuka diri untuk KTB "dimana
saja," agar mereka menikmati KTB. lni hanya beberapa contoh praktis, dan
saya yakin masih banyak contoh adaptasi lain yang bisa dan perlu kita lakukan
supaya pemuridan jadi relevan dan menjawab kebutuhan siswa/mahasiswa zaman ini.
Akhirnya,
mari kita terus berjuang memuridkan siswa/mahasiswa sampai mereka menjadi
pemimpinpemimpin Kristen yang dewasa karakter dan kerohanian sehingga hidup
mereka berdampak nyata dimanapun mereka berada. Mari terus percaya bahwa ini
panggilan mulia, karena tidak semua orang percaya mendapatkannya atau mau
mengerjakannya. Mari terus bersandar pada kekuatan Roh Kudus yang sanggup
mengubah hati siswa/mahasiswa yang kita bina. Dari ujung timur Jawa Timur
Salam
"Student Today Leader Tomorrow". (*Penulis Melayani Pelayanan Siswa
Banyuwangi)

Komentar
Posting Komentar