PEMURIDAN
SEUMUR HIDUP
oleh
Fransisca Riswandani
Apa
pemikiran Anda ketika mendengar bahwa Yesus meminta Anda untuk melakukan
pemuridan seumur hidup, yaitu dimuridkan dan memuridkan? Pertanyaan yang perlu
direnungkan sebelum saudara membaca opini ini lebih jauh. Dietrich Bonhoeffer pernah
menyampaikan, “Kekristenan tanpa pemuridan adalah kekristenan tanpa Kristus.”
Mengapa? Karena kenyataannya, Yesus bukan memerintahkan supaya manusia hanya
sekedar menerima-Nya sebagai Juruselamat, pergi ke gereja, membaca Alkitab,
berdoa, berbicara tentang Yesus, tetapi agar semua bangsa menjadi murid-murid
yang mengenal dan melakukan kehendak-Nya (Mat. 28:19). Dengan kata lain,
“seseorang tidak akan pernah menjadi pengikut Yesus tanpa menjadi murid atau
berkomitmen pada pemuridan.” Jika demikian, apakah jawab kita?
Pemuridan
perlu dilakukan seumur hidup. Mengikut Yesus dan menolong orang lain untuk
mengikut Yesus perlu dilakukan terus menerus. Tidak ada jeda untuk berhenti
menjadi murid dan memuridkan orang lain. Bill Hull dalam bukunya "Choose
The Life" menjelaskan bahwa pemuridan berarti percaya pada apa yang Yesus
percayai (transformasi pikiran), hidup seperti Yesus hidup (transformasi
karakter), mengasihi seperti Yesus mengasihi (transformasi hubungan), melayani
seperti Yesus melayani (transformasi pelayanan), dan memimpin seperti Yesus
memimpin (transformasi kuasa pengaruh). Kapankah hal itu selesai dicapai?
Saya pikir tidak pernah ada yang sudah lulus dalam hal ini. Dengan
demikian, pemuridan seharusnya menjadi agenda besar dalam hidup seorang
percaya.
Pemuridan
seumur hidup adalah teladan dan perintah Yesus. Ia melakukan pemuridan sampai
akhir hidup-Nya. Ketika Ia menunjukkan diri-Nya di muka umum, menariknya hal
pertama-tama yang Ia lakukan adalah memanggil murid. Ia terus memuridkan mereka
dalam segala situasi hidup-Nya, dalam hidup sehari-hari, dalam penderitaan
berat tatkala nafas-Nya hampir habis tersengal-sengal di atas kayu salib.
Bahkan sampai para murid tidak bisa lagi melihat-Nya karena Ia menghilang di
awan-awan, Yesus mengimpartasikan pemuridan kepada para murid-Nya. Ia
memberikan perintah supaya setiap murid-Nya terus mencari orang-orang untuk
dimuridkan, mengajar dan menolong mereka melakukan ajaran itu (Mat.28:19-20).
Perintah itu dibingkai dengan teladan pemuridan yang luar biasa semasa
hidup-Nya. Ia tahu kehadiran-Nya secara fisik di dunia terbatas secara waktu,
padahal misi kerajaan Allah belum selesai dikejarkan. Warisan ilahi ini perlu
diusung sampai jaman berganti jaman.
Bagaimana
jika pemuridan hanya dikerjakan separuh perjalanan pelayanan kita? Idealisme
dan militansi bisa saja hanya terjadi ketika dibina di dunia siswa atau
mahasiswa, tetapi menjadi “melempem” ketika ditarungkan dengan realita dan
kenikmatan dunia kerja. Mungkin ini yang menjadi jawaban dari pertanyaan yang
selama ini diajukan, “Mengapa sudah ribuan siswa mahasiswa yang kita bina
setiap tahunnya tetapi Indonesia tidak mengalami perubahan yang signifikan?
Korupsi di setiap lini bahkan pojok perkantoran. Masalah ekologi yang hanya
direspons dengan keprihatinan. Mengapa “toa” kekristenan tak diteriakkan?” Bisa
jadi karena pemuridan terhenti di tengah jalan. Tidak ada lagi yang mengiringi
ketika langkah-langkah berat dunia kerja menghantam kaki mereka. Tidak ada lagi
seorang kakak yang membarakan lagi hati yang mulai redup dan gelap. Tidak ada
lagi yang menantang mereka untuk men-Tuhan-kan Yesus ketika di antara mereka
mulai menyembah dewa Mamon yang nikmat dan memuaskan. Roda-roda pemuridan
berhenti berderit karena banyak yang berkata “cukup sampai di sini.”
Seringkali
pemuridan terhenti di suatu fase dimana tugas tanggung jawab seseorang semakin
bertambah banyak. Masa ujian sekolah yang berat bagi siswa, masa menulis
skripsi yang melelahkan bagi mahasiswa, atau pada fase berkeluarga dan bekerja
bagi alumni. Banyak orang juga melihat pemuridan sebagai proses yang partial,
hanya pada waktu siswa, mahasiswa atau fase awal menjadi alumni tatkala
kehidupan belum semakin kompleks.
Pemuridan
dikerjakan dengan tujuan supaya misi Allah untuk penegakan kerajaan Allah
ditengah dunia ini terus dikerjakan di segala bidang kehidupan, di keluarga,
dunia pendidikan, pemerintahan, di setiap tempat di mana ada manusia dan
ciptaan. Yesus hanya memberikan perintah misi kepada murid, bukan kepada “para
penggembira” yang menginginkan “roti-Nya.” Tidak ada misi yang konsisten
dikerjakan tanpa pemuridan. Jika proses ini terhenti maka tidak lagi ada
murid-murid yang terpelihara dan mengerjakannya misinya di tengah dunia yang
sarat dengan tantangan dan kesulitan hidup.
Tema
ini bukan untuk menambahkan satu beban lagi dalam hidup Anda. Namun sebaliknya,
untu membuat hidup bergairah. Karena terlibat dengan mega proyek ilahi,
pekerjaan bernilai kekal, di mana ngengat dan karat tidak dapat menghabisinya.
Di manapun Anda berada, tolonglah orang-orang untuj percaya kepada Yesus dan
ajarlah hari-lepas hari untuk tetap setia menjadi murid Yesus. Anak-anak Anda,
orang tua, sanak saudara, tetangga, bawahan Anda di kantor, murid-murid Anda di
sekolah, teman-teman Anda di gereja, dsb. Di sisi lain, sediakanlah diri Anda
untuk menjadi murid Kristus, dengan sengaja mengupayakan pertumbuhan rohani
Anda melalui komunitas murid. Mari terus berjuang mengenal dan melakukan
kehendak Allah seumur hidup. Selamat memuridkan.
Hull,
Bill. 2004. “Choose The Life.” Surabaya: Literatur Pekantas Jawa Timur. 18-20
“Discipleship—One
on One.” http://abbalove.org/index.php?option=com_content&view=article&id=847%3Ad.
(
* Penulis melayani pelayanan Alumni di Kota Malang)

Komentar
Posting Komentar