Pembentukan
Karakter Nasionalisme Dalam Pemuridan
oleh
Agung Kurniawan
Nasionalisme
adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara
dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme) Nasionalisme Indonesia
terdapat dalam Pancasila. Pancasila adalah identitas bangsa Indonesia yang
membedakan dengan bangsa lainnya. Kedaulatan bangsa terwujud jika Pancasila
dilakukan. Dan hal yang penting untuk diperjuangkan segenap warga Indonesia
adalah Pancasila.
Nasionalisme
dan Pemuridan
Memuridkan
adalah perintah terakhir Tuhan Yesus sebelum naik ke surga (Matius 28: 19-20).
Berdasarkan perintah tersebut, di dalam pemuridan melibatkan pengajaran dan
belajar menerapkan ajaran Yesus menyangkut kitab PL dan PB. Bagaimana
relevansi pemuridan dengan Pancasila? di bawah ini dikutip tulisan resensi buku
“ MATA AIR KETELADANAN: Pancasila Dalam Perbuatan “ yang ditulis oleh
Yudi Latif (http://m.kompasiana.com/post/read/640777/1/mata-air-keteladan-pancasila-dalam-perbuatan.htmlyang
berisikan penjelasan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara dan kaitannya dengan ajaran alkitab.
Sila
KeTuhanan yang Maha Esa.
“
Nilai-nilai Ketuhanan, meminjam ungkapan Bung Karno, adalah nilai-nilai
Ketuhanan yang berkebudayaan dan berkeadaban. Yakni nilai-nilai etis ketuhanan
yang digali dari nilai profetis agama-agama yang bersifat membebaskan,
memuliakan keadilan dan persaudaraan; Sila Ketuhanan, meminjam ungkapan Bung
Hatta, menjadi dasar yang memimpin ke jalan kebenaran, adilan, kebaikan,
kejujuran, dan persaudaraan.”
Hal
ini mengenai sifat Ilahi keTuhanan yaitu etika sosial, kebenaran, keadilan,
kejujuran, kebaikan dan perdamaian. Alkitab mengajarkan bahwa menjadi serupa
Yesus yang adalah citra Allah (Kol. 1: 1 – 23) adalah tujuan orang
percaya karena sifat ilahi sudah “ ditanamkan “ dalam diri orang percaya
melalui kelahiran baru yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Rom.8: 29; Yoh.14: 16 –
17). Berarti pemuridan adalah mewujudkan benih ilahi yang sudah ada di dalam
diri setiap orang percaya di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian
pemuridan adalah pengejawantahan sila Pertama dari Pancasila.
Sila
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
“
Sila ini mengandung visi kebangsaan yang humanis, dengan komitmen besar untuk
menjalin persaudaraan dalam pergaulan dunia serta antar sesama anak
negeri berlandaskan nilai-nilai keadilan dan keadaban yang memuliakan hak-hak
asasi manusia.” Alkitab mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia sebagai
wujud mengasihi Allah (Mat.22) karena seluruh manusia tanpa terkecuali adalah
gambar Allah. Mengasihi sesama adalah kewajiban kepada hak asasi manusia yang
adalah gambar Allah. Dengan demikian hukum kasih kepada sesama manusia ini
merupakan ajaran mengenai pengejawantahan sila Kedua dari Pancasila.
Sila
Persatuan Indonesia
“
Secara konseptual, Indonesia telah memiliki prinsip dan kebangsaan yang kuat,
terpatri dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika". Suatu prinsip
kebangsaan yang dapat mempertemu kesilaman tradisi dan kemajemukan masyarakat
Nusantara dan kebaruan negara-bangsa Indonesia; dengan kesiapan untuk
menghargai perbedaan seraya mengusahakan persatuan dalam negara, konstitusi
negara, bentuk, lambang dan bahasa negara, dan peraturan perundang-undangan
sebagai konsensus bersama.” Hal tersebut mengenai menghargai perbedaan
dan bersatu dalam perbedaan. Ajaran alkitab dalamI Korintus 12 adalah
ajaran nyata mengenai Bhinneka Tunggal Ika. Masing-masing anggota tubuh
memiliki fungsi dan bentuk yang berbeda, namun berada dalam kesatuan tubuh yang
sama dan untuk mencapai tujuan yang sama.
Sila
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan
“
Demokrasi pada hakikatnya merupakan cara mencintai sesama manusia dengan
menghormati setiap warga sebagai subjek yang daulat, bukan objek tindasan
kekuatan pemaksa atau kekuatan modal. Demokrasi yang sesuai dengan karakter
kebangsaan Indonesia bukanlah yang mengarah pada diktator mayoritas (mayorokrasi)
atau tirani minoritas, melainkan permusyawaratan yang menghargai hak
individu, hak kelompok marginal dan hak teritorial.” Di sini hak
pribadi dihormati, namun kepentingan nasional adalah hal yang paling
diutamakan. Tidak ada golongan yang menang atau kalah, mayoritas atau
minoritas, tetapi yang ada adalah Indonesia raya. Kitab Kisah 15: 1 -23
adalah mengenai musyawarah gereja Yerusalem yang tidak hanya dimonopoli oleh
para rasul saja, namun juga anggota gereja yang diwakili oleh penatua. Hasil
akhirnya adalah bukan untuk kepentingan non Yahudi atau kepentingan Yahudi
tetapi kepentingan bersama ( bandingkan dengan Rom. 14: 19).
Sila
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
“
Jalan untuk mencapai keadilan sosial menghendaki perwujudan negara
kesejahteraan ala Indonesia yang tidak saja mengandalkan peran negara secara
luas, tetapi juga menghendaki partisipasi pelaku usaha dan masyarakat dalam
mengembangkan kesejahteraan. Dengan kapasitasnya masing-masing, mereka harus
bergotong-royong memajukan kesejahteraan umum, mengembangkan jaminan pelayanan
sosial, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta melakukan pembangunan
berkelanjutan untuk keadilan dan perdamaian dengan karakter kemandirian, sikap
hemat, etos kerja, dan ramah lingkungan.”
Sila
ini mengenai kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Alkitab mengajarkan dalam
Kis.2: 43 – 47 dan 4: 34 – 35 mengenai ikut ambil bagian dalam mensejahterakan
orang lain. Semua anggota jemaat baru tersebut ikut serta secara sukarela
saling membantu supaya anggota jemaat yang kekurangan menjadi lebih sejahtera
(bandingkan dengan 2 Kor. 8: 13 – 14).
Berdasarkan
penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila
tidak bertentangan dengan ajaran Alkitab. Dengan demikian, mengajarkan ajaran
alkitab dalam proses pemuridan adalah bagian dari membentuk karakter
nasionalisme dalam diri setiap orang percaya dalam hal ini siswa dan mahasiswa
binaan Perkantas yang terlibat dalam Kelompok tumbuh Bersama.
(*Penulis
melayani di Departemen Konseling Perkantas Jawa Timur)
Sumber
Gambar : http://ummaymochil.files.wordpress.com/2009/08/nationalizm-opo-kui1.jpg?w=470

Komentar
Posting Komentar