Mengembangkan
Gaya Hidup Sederhana Dalam Pemuridan
oleh
Victor Kurniawan
Ketika
membaca buku Radical Disciple yang ditulis oleh John Stott, ada satu
hal yang menarik perhatian saya, yaitu: Ia menuliskan bahwa salah satu ciri
murid yang radikal adalah kesederhanaan[i].
Secara khusus ia memberikan sorotan terhadap penggunaan uang atau harta milik.
Hal ini menarik untuk dua alasan. Pertama, “langka”, kesederhanaan sangat
jarang dibahas dalam kaitan dengan tema-tema pemuridan. Kedua, ditengah
zaman yang konsumtif dan materialistik seperti saat ini, ide ini serasa “aneh”
sekaligus menyegarkan.
Namun,
ide “aneh” dan “langka” ini sangat menggelisahkan para pemimpin Kristen yang
terlibat dalam gerakan Laussane beberapa puluh tahun yang lalu. Dalam
perenungan, mereka menemukan bahwa “hidup” dan “gaya hidup” saling
berkaitan satu dengan yang lain. Semua orang Kristen mengklaim telah menerima
hidup baru di dalam Yesus Kristus. Namun, gaya hidup seperti apa yang cocok
bagi para pengikut Yesus? Terutama di zaman ini, dimana kemiskinan dan
ketidakadilan merajalela, keterbatasan sumber daya alam, dan tugas kita sebagai
saksi Kristus di tengah dunia. Pada akhirnya mereka mengambil komitmen bahwa
gaya hidup yang cocok untuk orang-orang yang mengklaim hidup baru di dalam
Kristus adalah hidup sederhana.
Murid
Yesus : Hidup Sederhana
Paul Gunadi menyatakan bahwa hidup sederhana adalah hidup secukupnya[ii]. Hidup dengan tidak mencari kemewahan; ia sekedar memenuhi kebutuhannya. Namun, ia juga menegaskan bahwa bukan berarti orang yang hidup sederhana tidak bekerja dengan sebaik-baiknya, hidup bermalas-malasaan tanpa motivasi. Hidup sederhana tetap untuk memberi yang terbaik dalam hidup kita.
Paul Gunadi menyatakan bahwa hidup sederhana adalah hidup secukupnya[ii]. Hidup dengan tidak mencari kemewahan; ia sekedar memenuhi kebutuhannya. Namun, ia juga menegaskan bahwa bukan berarti orang yang hidup sederhana tidak bekerja dengan sebaik-baiknya, hidup bermalas-malasaan tanpa motivasi. Hidup sederhana tetap untuk memberi yang terbaik dalam hidup kita.
Mengapa
kita harus hidup sederhana? Pertama, sebab kita diberikan mandat oleh
Allah menjadi pengurus atas ciptaanNya (Kejadian 1:26-28, 2:15). Gaya
dan cara hidup kita jelas mempengaruhi ciptaan. Apa yang kita gunakan, dan
habiskan bersentuhan langsung dengan ciptaan. Sehingga, cara hidup yang tidak
sederhana menunjukkan kurang bertanggung jawabnya kita terhadap mandat yang
diberikan Allah kepada kita. Kedua, kemiskinan dan ketidakadilan yang
merajalela. Fakta bahwa 800 juta orang hidup dalam kemiskinan dan sekitar
10.000 orang meninggal dunia akibat kelaparan setiap hari jelas merupakan suara
yang keras untuk meninggalkan gaya hidup kita yang lain. Fakta ini juga
sebuah undangan untuk terlibat aktif memerangi ketidakadilan, dan kemiskinan.
Hal tersebut dapat dimulai dengan mengembangkan gaya hidup sederhana, mengembangkan
disiplin memberi kepada yang membutuhkan dan terlibat lebih banyak dalam
memerangi masalah kemiskinan dan ketidakadilan . Ketiga, pekabaran injil.
Fakta membuktikan bahwa ada begitu banyak orang di seluruh dunia belum
mendengar kabar Injil. Tidak ada cara untuk menunjukkan angka yang pasti, namun
para peneliti memperkirakan jumlah total kelompok suku diseluruh dunia
kira-kira 16.700. Dari jumlah tersebut, sekitar 9800 dianggap memiliki jemaat
yang bertumbuh. Sisanya kira-kira 6900 kelompok suku belum dijangkau oleh
injil. Dengan hidup sederhana kita dapat menyediakan sumber daya yang memadai,
baik sumber daya keuangan maupun sumber daya pekabaran injil di seluruh dunia.
Membangun
dan menularkan hidup Sederhana
Menurut saya, cara paling efektif membangun dan menularkan hidup sederhana adalah melalui komunitas pemuridan. Sebab, visi dan filosofi komunitas pemuridan mendukung kesederhanaan. Selain itu, pedalamanan Alkitab, keteladanan dari anggota kelompok dan pemimpin, proyek-proyek ketaatan, intensitas relasi dan pertemuan dalam komunitas ini, serta tindakan-tindakan misi yang dilakukan merupakan tanah yang subur untuk menumbuhkan kesederhanaan dan menjadikannya sebuah gaya hidup[iii]. Selain keberadaan komunitas pemuridan, kita juga harus berkomitmen untuk membangun hidup sederhana. Beberapa hal praktis yang disarankan adalah : Pertama, membangun kesederhanaan dalam[iv], yaitu membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan, mengijinkan Dia untuk memuaskan hidup kita dari hari ke hari dan belajar bersyukur dan mencukupkan dengan yang kita miliki saat ini. Kedua, membangun kesederhanaan luar. Hal-hal praktis yang bisa kita lakukan adalah :
Menurut saya, cara paling efektif membangun dan menularkan hidup sederhana adalah melalui komunitas pemuridan. Sebab, visi dan filosofi komunitas pemuridan mendukung kesederhanaan. Selain itu, pedalamanan Alkitab, keteladanan dari anggota kelompok dan pemimpin, proyek-proyek ketaatan, intensitas relasi dan pertemuan dalam komunitas ini, serta tindakan-tindakan misi yang dilakukan merupakan tanah yang subur untuk menumbuhkan kesederhanaan dan menjadikannya sebuah gaya hidup[iii]. Selain keberadaan komunitas pemuridan, kita juga harus berkomitmen untuk membangun hidup sederhana. Beberapa hal praktis yang disarankan adalah : Pertama, membangun kesederhanaan dalam[iv], yaitu membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan, mengijinkan Dia untuk memuaskan hidup kita dari hari ke hari dan belajar bersyukur dan mencukupkan dengan yang kita miliki saat ini. Kedua, membangun kesederhanaan luar. Hal-hal praktis yang bisa kita lakukan adalah :
Membeli
barang-barang yang tujuannya untuk digunakan bukan untuk prestise
Membangun
kebiasaan memberi barang-barang kepada orang lain
Jangan
percaya bahwa jika memiliki banyak barang, maka kita akan lebih bahagia
Belajar
untuk tidak mempercayai apa yang diiklankan.
(* Penulis melayani di Pelayanan Mahasiswa Malang)
Sumber
Gambar : http://static.tumblr.com/ackqwan/yycm9booe/simplicity.jpg
[i] Stott,
John. 2010. “The Radical Disciples”. Literatur Perkantas Jawa Timur, Surabaya.
Hal 55-74.
[ii] Gunadi,
Paul. 2014. “Hidup Sederhana”, diunduh dari http://www.telaga.org/audio/hidup_sederhana
[iii] Kamus
Besar Bahasa Indonesia memberikan makna gaya hidup sebagai pola tingkah laku
sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat.
[iv] Gunadi,
Tadius.2012. “Spirituality as a long Journey” (Materi Weekend Alumni Malang).
(tidak dipublikasikan)

Komentar
Posting Komentar