JIKA
ANDA SEORANG MURID
oleh
Fransisca Riswandani, M.Div.
lni
adalah olimpiade seumur hidup! Hari-hari panjang Anda diinginkan oleh Allah
untuk menjadi agen-agen-Nya. Dimulai dari titik Anda menerima Allah sebagai
pemilik hidup Anda, sampai Anda mati, sesungguhnya Anda sedang ada dalam satu
track lari untuk mengerjakan pekerjaan Allah di tengah dunia ini. Pekerjaan
apa? Mengerjakan nilai-nilai kebenaran dan kemuliaan di dalam setiap aspek
hidup Anda. Mulai dari hal kecil sampai urusan paling besar dan kompleks dalam
hidup Anda. lni adalah sebuah perjalanan panjang bersama dengan Allah dimana
Anda dipilih untuk menggarami dan menerangi dunia. Dalam olimpiade ini fokusnya
bukan pada panjangnya waktu, tuntutannya, perintahnya, bukan pula pada
beratnya. Tetapi ini adalah kesempatan seumur hidup yang menantang dan menggairahkan,
jika anda seorang murid.
Di
setiap sudut dunia ini, di pasar, perusahaan, sekolah, kampus, kantor
pemerintahan, mall, pertokoan, warung, alam lingkungan, semua sudut dirancang
Allah untuk kemuliaan. Mereka yang hidup bergairah untuk Allah akan beresonansi
dengan kehendak Allah. Mereka akan berlomba-lomba untuk membawa kemuliaan Allah
(dalam tafsiran masing-masing: menjangkau jiwa, membina iman jemaat,
mengentaskan kemiskinan dan menjawab isu sosial, dsb) di setiap tempat dan
kesempatan. Hal itu diterjemahkan oleh murid-murid Kristus -- alumni-alumni,
dengan mengambil profesi sebagai tukang pijat, membuka les-lesan, buka kursus
jahit untuk menginjili dan menolong masyarakat secara ekonomi. Di tempat yang
lain, mereka menjawab tantangan menjaga integritas di lahan basah dengan
semangat. Ketika berhasil, ia mengalami sebuah sukacita walaupun itu artinya
harus dimutasi, turun pangkat, bahkan diperkarakan di pengadilan. Di level yang
lebih terorganisir banyak anak Tuhan memuliakan Allah dengan pelayanan baik
yang nampak tidak strategis (orang gila, lansia, orang lumpuh) maupun yang
nampak strategis (pelayanan anak, siswa, mahasiswa, kaum professional). Bagi
kalangan murid Kristus di dunia teologis, mereka menulis buku untuk
mempengaruhi seluruh dunia. Sebut saja John Stott, Edmund Chan, Dietrich
Boenhofer dan sederetan nama lain. Juga tidak sedikit Gereja membangun teater,
sekolah, rumah sakit misi, dan pelayanan publik lain untuk memenangkan jiwa
bagi Kristus. Mereka menangkap nilai kemuliaan Allah dan beresonansi bersama
nilai itu di semua tempat dan kesempatan.
Tapi
sudah cukupkah kiloan garam dan kilauan terang dari sederetan nama-nama,
lembaga-lembaga dan gerejagereja tersebut untuk menghadirkan kerajaan Allah di
dunia ini? Belum. Diperlukan murid-murid lain, yaitu Anda. Sejauh mana pengaruh
kekristenan di dunia ini? Sejauh pengaruh Anda saat ini bagi lingkungan Anda.
Lalu bagaimanakah kita ikut berjuang dalam olimpiade seumur hidup ini?
Kita
diberi kemampuan untuk mengerjakan kehendak Allah Allah sudah memberikan
kemampuan bagi kita untuk mengerjakan pekerjaan-Nya (band. Kej. 2:26-28).
Ketika la menciptakan manusia, la memberikan kuasa kepada setiap individu.
Kuasa itu untuk menguasai bumi dan mengelolanya untuk kemuliaan Allah.
Diterjemahkan dalam jaman sekarang adalah Allah ingin setiap taman Eden (baca:
pekerjaan, keluarga, gereja, lingkungan, pelayanan) yang dipercayakan kepada
Anda dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Bukan untuk kemuliaan dan keuntungan
diri. Bukan hanya itu, setiap . murid yang menerima Dia sebagai Tuhan diberi
penyertaan Roh Kudus untuk bisa bergerak bersama dengan Allah di tengah dunia
ini (Mat. 28:19-20). Roh Kudus yang akan membuat kita berani dan berhikmat
untuk menjalani panggilan hidup. Allah sudah memberikannya dengan lengkap untuk
kita. Oh, ini terlalu muluk rasanya! Edmund Chan dalam satu seminarnya
mengatakan bahwa Allah tidak memberi perintah yang tidak mungkin untuk untuk
dilakukan umat-Nya. Artinya mengerjakan seluruh aspek hidup kita untuk
kepentingan Allah itu mungkin!
Apakah
kita mau?
lni
semua adalah perkara apakah kita mau? Mau terlibat dalam kegerakan Allah di
tengah dunia ini. Sebanyak, sebagus apapun boeing konsep kita tentang Allah,
dunia, dan manusia, pada akhirnya pesawat baru bisa diterbangkan jika pilot menekan
tombol take off. "Mau" adalah perkara hati. Dimana hati kita berada
menentukan murid seperti apakah kita saat ini. Kasih mula-mula yang menyala
bisa redup ketika hati untuk Tuhan digeser dengan hati untuk diri dan dunia.
Kita masih bisa rajin ke gereja dan mengikuti aktivitas rohani. Namun,
bagaimana dengan keputusan-keputusan setiap hari, prioritas, nilai-nilai dan
gaya hidup kita? Sungguhkah kita ingin semua orang melihat Kristus di dalamnya?
Merawat
diri
Hampir
mustahil terus-menerus mempertahankan energi dan gerakan untuk mencapai tujuan
jangka panjang. Banyak siswa, mahasiswa dan alumni hidup di dalam kerohanian
yang ideal dan membara. Tetapi bara itu bisa memudar jika tidak dijaga apinya.
Perjuangan menjadi murid seumur hidup perlu pemeliharaan kerohanian yang
konsisten dan holistik. Bukan hanya perbanyak kegiatan rohani, hafalan ayat
Alkitab, perbanyak pergi ke gereja (saya tidak mengatakan itu tidak penting).
Tetapi konsistensi mengintegrasikan isi Alkitab dengan isi dunia ini.
Kehilangan ketekunan mengintegrasi membuat tombak kita semakin besar tetapi
tumpul ujungnya. Kita akhirnya tidak bisa menjawab isu-isu dunia. Ketika
melihat Alkitab dan melihat kemiskinan, ekonomi yang melemah, kebijakan
pemerintah, sistem dan budaya masyarakat yang korup moral, apa konsep dan
tindakan kita? Diperlukan observasi lingkungan dengan terang Firman dan
keberanian untuk mengambil peran yang konkret. Dengan demikian kita bisa
merawat kemuridan diri ditengah dunia. Sesederhana itu prinsipnya, tetapi tidak
semudah itu pelaksanannya.
Murid
di tengah serigala perlu merawat diri secara holistik dalam kesehatan mental,
emosi, spiritual, fisik dengan tepat. Tantangan dunia semakin tidak mudah. Jika
bagian-bagian dari diri kita tidak kuat, maka tidak mungkin menjawab tantangan
dunia dengan segenap kekuatan hati, tenaga dan akal budi sebagai bentuk kita
mengasihi Allah. Setiap hari dan utuh!
Anda
sudah ada dalam gelanggang pertandingan seorang murid. Tidak ada saran
berhenti! Tapakkan kaki Anda untuk terus berlari menjadi jawaban bagi dunia
ini. Kristus menyertai sampai garis akhir. Soli Deo Gloria.
(Penulis
Melayani Pelayanan Alumni di Malang)

Komentar
Posting Komentar