Doa
dan Transformasi
oleh
Vionatha Lengkong, S.S.
Ester
4:1-17
Hiruk
pikuk Pilkada DKI Jakarta beberapa bulan terakhir sangat mungkin menguras emosi
dan keprihatinan kita. Isu agama yang dipermainkan hingga mengarah pada
disintegrasi bangsa bahkan telah mencapai babak akhir: Basuki Tjahaja Purnama
divonis bersalah dan dihukum selama dua tahun penjara. Keprihatinan atas
ketidakadilan dinyatakan dalam aksi damai di berbagai daerah. Jutaan orang dari
berbagai kalangan turun ke jalan menyalakan lilin dan berdoa dengan harapan
terang kebenaran akan timbul di tengah kegelapan bangsa ini. Lalu apa yang
terjadi? Sejauh ini tampaknya tidak banyak terjadi perubahan.
Doa
bukanlah sebuah tindakan utopis, atau usaha menyedihkan dari orang-orang lemah
(kalah). Doa adalah demonstrasi kekuatan dari sebuah pengharapan akan karya
Allah. Walter Wink mengatakan, "Sejarah merupakan milik para pendoa, yang
meyakini masa depan akan terjadi". Sejarah Indonesia dalam tangan Allah,
Sang Pemegang Sejarah dunia. Ketika sejarah seolah sedang bergerak melawan
kehendak Allah, itu bukan berarti kendali Allah atas Indonesia terlepas. Inilah
saatnya umat-Nya tetap berdoa dengan tidak berkeputusan untuk menangkap maksud
Tuhan bagi Indonesia.
Narasi
kitab Ester mungkin dapat mewakili gambaran suram Indonesia politik dan hukum
Indonesia saat ini. Gambaran "Allah yang diam" dilukiskan oleh
penulis Kitab Ester, yang (dengan sengaja) "menghilangkan" nama dan
pekerjaan Allah di dalam seluruh narasi Ester. Rakayasa politik Haman untuk
memusnahkan bangsa Israel di tengah Kerajaan Persia (Ester 3) seolah
menunjukkan hasil. Semua kesuraman itu toh tak membuat Ester dan Mordekhai
kehilangan kepercayaan mereka kepada TUHAN Allah Israel. Dua hal yang bisa kita
pelajari dari iman Ester dan Mordekhai: (1) kepercayaan mereka kepada Allah tak
luntur, meski Allah seolah diam; dan (2) keberanian mereka mengambil risiko
menyediakan diri mereka dalam peta rencana Allah melalui berdoa dan berpuasa
(ay. 16). Pada titik inilah transformasi mulai terjadi, keyakinan bahwa
"Allah tak pernah tertidur" (Gusti mboten sare), dan kerelaan Ester
untuk mau masuk dalam risiko paling besar dari doa itu sendiri: rela mati demi
kebenaran (ayat 16).
Contoh
doa dan transformasi bagi bangsa juga pernah dialami Rakyat Rumania.
Pemerintahan komunis yang berkuasa 42 tahun akhirnya digulingkan, dimulai dari
seorang pendeta di kota Timisoara, Laszlo Tokes, yang bertahun-tahun memprotes
ketidakadilan rezim komunis dibawah pemerintahan diktator Nicolae Ceausescu.
Tokes yang saat itu diberhentikan dari jabatan kependetaannya dan hendak
ditangkap menuai aksi ini berlanjut sebagai prates melawan komunisme. Dalam
beberapa hari, prates menyebar ke ibu kota Bukares, dan pada Natal 1989,
penduduk Rumania merayakan kemerdekaan dari komunisme.
Ketekunan
berdoa dan kerelaan bertindak mengambil risiko dalam gerak Rencana Allah adalah
kunci bagi transformasi bangsa-bangsa sepanjang zaman. Siapkah kita bertekun
dalam doa, dan sekaligus menjadi jawaban bagi transformasi itu? (* Penulis
melayani pelayanan administrasi di Perkantas Surabaya)

Komentar
Posting Komentar