Doa:
Antara Transformasi Diri dan Transformasi Bangsa
oleh
Dr. Iman Santoso, Ph.D.
Perkantas
lahir dari kelompok-kelompok siswa, mahasiswa, dan alumni yang berkumpul dalam
Persekutuan Firman (Pemahaman Alkitab) dan gerakan doa. Dalam perkembangannya,
Perkantas kemudian berkembang dalam gerakan kesaksian melalui Kelompok-kelompok
Kecil, dan Persekutuan yang berdoa, mempelajari serta melakukan Firman.
Pertumbuhan pelayanan yang diikuti oleh meningkatnya aktivitas pelayanan dapat
mengakibatkan kelalaian dalam doa. Padahal pelayanan yang bergantung pada
kekuatan manusiawi belaka akan menonjolkan manusia, dan mengkaburkan visi dari
Tuhan. Ini dapat berlanjut pada mengeringnya kehidupan persekutuan, kemudian
mengarah kepada kematian kehidupan pelayanan dan kehidupan Perkantas sendiri.
Doa
menyiapkan hati kita (Mat. 6:9) untuk berjumpa dan bercakap-cakap dengan Tuhan.
Doa menghidupkan Firman, dan Firman yang hidup membangkitkan kehidupan doa. Doa
adalah tindakan datang dan bersekutu dengan Tuhan, yang berhubungan erat dengan
anugerah Allah. Persekutuan yang berdasar anugerah ini akan berbuah pada
hadirnya kuasa dan kasih Allah dalam hidup dan pelayanan seorang pendoa.
Transformasi hidup pasti dialami oleh para pendoa, bahkan akan terus dialirkan
kepada orang-orang yang di sekitarnya.
Alkitab
dalam sudut pandang tertentu adalah Firman Tuhan yang bersifat transformatif.
Alam (Kej.1:1 dst.) dan manusia sebagai pribadi dan komunitas mengalami
transformasi dasyat karena bersentuhan dengan Firman yang Mahakuasa dan
Mahamulia. Alkitab menceritakan baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun
muda, bahkan bangsabangsa mengalami transformasi dalam perjumpaan dengan
Firman Tuhan. Contoh-contoh menonjol dari pribadi-pribadi yang mengalami
transformasi meliputi: Yakub di Bethel (Kej.28:10-22), Musa dalam peristiwa
semak duri yang "terbakar" (Kel.3:1 dst.), Paulus dalam perjalanan ke
Damsyik (Kis.9:1 dst.). Seorang perempuan sederhana, karena perjumpaannya
dengan malaikat dan Roh Kudus (Luk.1:26-27, 35), mengalami kejadian luar biasa.
Maka pujian, doa, penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah lahir dalam
hidup Maria karena perjumpaan ini (Luk.1:46-55). Sebagai puncaknya, Yesus
Kristus, Sang Anak Allah sendiri, lahir dari perawan Maria.
Doa
sejati lahir karena anugerah Tuhan, dan dari perjumpaan dengan Tuhan (Gal.4:6).
Doa yang bertumbuh dalam maksud-maksud-Nya itu terjadi dalam persekutuan yang
hidup dengan Tuhan (2 Kor.3:18). Pribadi yang haus, yang datang kepada Yesus
dalam iman seperti yang dikatakan Kitab Suci (Yoh.7:37,38), akan mengalami
kejadiankejadian luar biasa. Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran
air hidup (Yoh.7:39). Bahkan dalam Yoh.4:14 dikatakan bahwa Air Hidup yang
diberikan Yesus itu akan menjadi Mata Air di dalam dirinya (perempuan Samaria),
yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. Transformasi
pribadi Musa, yang berlanjut menuju kepenuhannya, akhirnya bukan hanya
mentransformasi pribadi Musa, tetapi juga berlanjut kepada Pernyataan Kuasa
Tuhan: Kuasa yang melepaskan Israel dari belenggu perbudakan Mesir; Kuasa yang
mentransformasi dari bangsa budak menjadi bangsa merdeka; Kuasa Transformasi yang
memancarkan kasih karunia Tuhan yang amat besar. Dalam Perjanjian Baru,
transformasi pribadi Paulus bukan hanya membawa transformasi orang-orang di
sekitarnya. Melalui perjalanan misi Paulus, transformasi terjadi di tengah
komunitas-komunitas non-Yahudi. Melalui surat-surat Paulus, Roh Kudus terus
mentransformasi hampir seluruh Imperium Romawi, Negara-negara Eropa Barat,
Amerika Serikat, hingga ke semua negara di dunia, termasuk kita di Indonesia.
Dalam
memperingati HUT Perkantas (Jatim) yang ke-44 ini, kita senantiasa harus
mengingatkan diri kita sendiri, dari mana semua yang telah kita alami di (dan
melalui) Perkantas. Melalui Perkantas begitu banyak hidup yang diubahkan. Ini
semua harus mendorong kita semakin bersyukur kepada atas anugerah-Nya yang tidak
terkirakan itu. Pada saat yang sama, kita harus makin hidup dalam kehidupan
yang berdoa, makin haus akan kebenaran, serta melakukan Firman Tuhan yang
berdampak hingga kepada Transformasi Bangsa.
(Penulis
adalah Perintis Pelayanan Perkantas Surabaya, saat ini Penasihat TCI)

Komentar
Posting Komentar